Selasa, 17 Januari 2012
Senin, 02 Januari 2012
Makna Lambang Daerah Majalengka
Bentuk Lambang Daerah berupa sebuah Perisai bersudut lima bersisi hijau muda, dasar hijau muda yang di tengah-tengahnya terdapat lukisan yang terdiri dari 9 (sembilan) macam wujud benda yaitu :
Ukuran Lambang Daerah yang berupa sebuah perisai tersebut pada point 1 di atas adalah 2 (dua) berbanding 3 (tiga). Lambang Daerah mengandung makna sebagai berikut :
1. Perisai : melambangkan perjuangan dalam menempuh gelombang hidup dan kehidupan dengan ranjau-ranjau bahaya dan aneka pertempuran lahir batin.
2. Bersudut lima melambangkan Dasar Negara Republik Indonesia yaitu Pancasila;
3. Dasar hijau muda : melambangkan kemakmuran dan kebahagiaan;
4. Batang tanpa dahan, tanpa ranting, tanpa daun, tanpa pucuk, tegak lurus tunggal, muncul dari sudut bawah perisai menjulang ke atas sampai ke bawah puncak gunung, melambangkan pohon maja sebagai pohon pangkal dan asal permulaannya, yang dilambangkan dengan warna hitam dan putih berseling-seling;
5. Selendang dengan warna biru tua adalah suatu pelengkap pakaian wanita: melambangkan kepada masa kebesaran Ratu Nyi Rambut Kasih;
6. Air/sungai : melambangkan watak jiwa manusia yang tidak pernah putus asa, warnanya biru muda sebagai tanda kesetiaan, berseling putih sebagai ciri kesucian;
7. Bangunan berjumlah 3 (tiga) suhunan : melambangkan 3 (tiga) kebutuhan pokok hidup manusia dalam wujud benda yaitu sandang, pangan dan papan, warnanya kuning tua melambangkan kematangan jiwa;
8. Gunung sebagai lambang keagungan dengan warna biru tua perlambang keteguhan;
9. Padi : melambangkan kemakmuran dan kejayaan daerah, warnanya kuning tua mengandung palsafah kematangan jiwa;
10. Kapas : melambangkan kemakmuran dan kejayaan daerah, warnanya putih bersih dengan tangkai/kelopak kuning tua melambangkan pengabdian yang tulus disertai kematangan jiwa;
11. Kompas disebut juga pedoman: melambangkan manusia hidup harus memiliki ketentuan arah dan tujuan, arah yang tidak menyesatkan warnanya kuning tua menunjukkan kematangan jiwa;
12. Pita merah putih : melambangkan kepribadian Bangsa Indonesia.
Sumber : BAPPEDA Kab. Majalengka
Read full story
- batang tanpa dahan berwarna hitam putih
- selendang berwarna biru muda bersisi putih bertuliskan Sindangkasih Sugih Mukti warna putih
- air/sungai berwarna puti dan biru muda
- bangunan 3 (tiga) suhunan berwarna kuning tua bergaris sisi hitam dan putih sejajar
- · gunung berwarna biru,
- · padi berwarna kuning bergaris sisi hitam
- · kapas berwarna putih kuning bergaris sisi hitam
- kompas/mata angin berwarna hitam kuning
- pita merah putih yang mengelilingi 9 (sembilan) wujud benda.
Ukuran Lambang Daerah yang berupa sebuah perisai tersebut pada point 1 di atas adalah 2 (dua) berbanding 3 (tiga). Lambang Daerah mengandung makna sebagai berikut :
1. Perisai : melambangkan perjuangan dalam menempuh gelombang hidup dan kehidupan dengan ranjau-ranjau bahaya dan aneka pertempuran lahir batin.
2. Bersudut lima melambangkan Dasar Negara Republik Indonesia yaitu Pancasila;
3. Dasar hijau muda : melambangkan kemakmuran dan kebahagiaan;
4. Batang tanpa dahan, tanpa ranting, tanpa daun, tanpa pucuk, tegak lurus tunggal, muncul dari sudut bawah perisai menjulang ke atas sampai ke bawah puncak gunung, melambangkan pohon maja sebagai pohon pangkal dan asal permulaannya, yang dilambangkan dengan warna hitam dan putih berseling-seling;
5. Selendang dengan warna biru tua adalah suatu pelengkap pakaian wanita: melambangkan kepada masa kebesaran Ratu Nyi Rambut Kasih;
6. Air/sungai : melambangkan watak jiwa manusia yang tidak pernah putus asa, warnanya biru muda sebagai tanda kesetiaan, berseling putih sebagai ciri kesucian;
7. Bangunan berjumlah 3 (tiga) suhunan : melambangkan 3 (tiga) kebutuhan pokok hidup manusia dalam wujud benda yaitu sandang, pangan dan papan, warnanya kuning tua melambangkan kematangan jiwa;
8. Gunung sebagai lambang keagungan dengan warna biru tua perlambang keteguhan;
9. Padi : melambangkan kemakmuran dan kejayaan daerah, warnanya kuning tua mengandung palsafah kematangan jiwa;
10. Kapas : melambangkan kemakmuran dan kejayaan daerah, warnanya putih bersih dengan tangkai/kelopak kuning tua melambangkan pengabdian yang tulus disertai kematangan jiwa;
11. Kompas disebut juga pedoman: melambangkan manusia hidup harus memiliki ketentuan arah dan tujuan, arah yang tidak menyesatkan warnanya kuning tua menunjukkan kematangan jiwa;
12. Pita merah putih : melambangkan kepribadian Bangsa Indonesia.
Sumber : BAPPEDA Kab. Majalengka
Label:
Tentang Majalengka
Definisi Halaman Forum Blogger
Dalam halaman ini akan ditampilkan komentar - komentar atau mater yang di bahas di Grup MBC yang ada di FB, namun karena keterbatasan saya dalam hal pembuatan blog untuk memberi komentar di halaman forum ini anda dapat menulis komentar di grup MBC, setelah itu akan saya masukan di halaman ini.
Ayo Gabung di Grup MBC (Majalengka Blogger Club)
Read full story
Ayo Gabung di Grup MBC (Majalengka Blogger Club)
Label:
Forum Blogger
Pedesan Entog dan Ganyong Makanan Khas Majalengka
Bupati Majalengka. H. Sutrisno, SE, M.Si megintruksikan makanan “pedesan” entog dan tepung ubi ganyong dijadikan salah satu makanan ciri khas Kabupaten Majalengka yang bisa dipromosikan ke luar daerah.
Hal tersebut disampaikan Bupati dalam acara lomba makanan dan minuman berbahan baku lokal tingkat Kab. Majalengka yang bertempat di gedung Yudha Karya Abdi Negara belum lama ini.
Menurut Bupati, khusus makanan ubi ganyong, berdasarkan data potensi Jawa Barat bahwa sentra ganyong di Indonesia ada dua Propinsi yaitu Jawa Tengah dan Jawa Barat dan untuk Kab. Majalengka sendiri salah satu daerah penghasil ganyong terbesar.
“Saat ini ubi Ganyong di Kabupaten Majalengka tersebar di Kecamatan Majalengka Maja, Talaga, Banjaran, Argapura, Lemahsugih, Cikijing, Cingambul dan Bantarujeg,” kata bupati.
Lomba makanan dan minuman tersebut diikuti oleh Tim Penggerak PKK Kecamatan se Kabupaten Majalengka, Wakil Bupati Dr.H.Karna Sobahi.M.MPd, Sekretaris Daerah Drs.H.Ade Rachmat Ali.M.Si, para Kepala OPD terkait dan para Camat serta Ketua TP PKK Kecamatan se Kabupaten Majalengka dan undangan lainnya.
Kepala Dinas KUKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Majalengka Drs.H.Iman Pramudya.MM dalam laporanya mengatakan, lomba ini merupakan upaya untuk menggali dan mensosialisasikan sumber sumber pangan serta mempromosikan makanan asli Majalengka.
Menurut Iman, makanan lokal seperti ubi ganyong memiliki keunggulan kandungan gizi dari setiap bahan baku lokal diantaranya ubi ubian yang mengandung zat yang berfungsi memperlancar saluran pembuluh darah yang mengalami penyempitan dan melancarkan peredaran darah.
“Diharapkan melalui lomba ini selain upaya mempromosikan makanan khas Majalengka, sekaligus dapat meningkatkan pengetahuan dalam menghasilkan ragam makanan dan minuman berbahan baku lokal yang mempunyai nilai tambah dan kompetitif,” katanya.
Sementara itu Ketua Tim Penggeraka PKK Kabupaten Majalengka Ny.Imas Indrawati Sutrisno,SE dalam sambutannnya mengatakan, lomba makanan dan minuman ini adalah bukti komitmen TP PKK Kabupaten dalam mendukung pembangunan di Kabupaten Majalengka, khususnya dalam membantu program pemerintah daerah dalam mewujudkan ketahanan pangan masyarakat.
“Melalui upaya ini diharapkan menjadi cara dalam menuangkan karya, cipta dan karsa kader kader PKK, yang tentunya akan bermanfaat dan bernilai guna menunjang pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas, cerdas, kreatif dan sehat.” Harapanya.(Vick).
Sumber : Sinar Media
Read full story
Hal tersebut disampaikan Bupati dalam acara lomba makanan dan minuman berbahan baku lokal tingkat Kab. Majalengka yang bertempat di gedung Yudha Karya Abdi Negara belum lama ini.
Menurut Bupati, khusus makanan ubi ganyong, berdasarkan data potensi Jawa Barat bahwa sentra ganyong di Indonesia ada dua Propinsi yaitu Jawa Tengah dan Jawa Barat dan untuk Kab. Majalengka sendiri salah satu daerah penghasil ganyong terbesar.
“Saat ini ubi Ganyong di Kabupaten Majalengka tersebar di Kecamatan Majalengka Maja, Talaga, Banjaran, Argapura, Lemahsugih, Cikijing, Cingambul dan Bantarujeg,” kata bupati.
Lomba makanan dan minuman tersebut diikuti oleh Tim Penggerak PKK Kecamatan se Kabupaten Majalengka, Wakil Bupati Dr.H.Karna Sobahi.M.MPd, Sekretaris Daerah Drs.H.Ade Rachmat Ali.M.Si, para Kepala OPD terkait dan para Camat serta Ketua TP PKK Kecamatan se Kabupaten Majalengka dan undangan lainnya.
Kepala Dinas KUKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Majalengka Drs.H.Iman Pramudya.MM dalam laporanya mengatakan, lomba ini merupakan upaya untuk menggali dan mensosialisasikan sumber sumber pangan serta mempromosikan makanan asli Majalengka.
Menurut Iman, makanan lokal seperti ubi ganyong memiliki keunggulan kandungan gizi dari setiap bahan baku lokal diantaranya ubi ubian yang mengandung zat yang berfungsi memperlancar saluran pembuluh darah yang mengalami penyempitan dan melancarkan peredaran darah.
“Diharapkan melalui lomba ini selain upaya mempromosikan makanan khas Majalengka, sekaligus dapat meningkatkan pengetahuan dalam menghasilkan ragam makanan dan minuman berbahan baku lokal yang mempunyai nilai tambah dan kompetitif,” katanya.
Sementara itu Ketua Tim Penggeraka PKK Kabupaten Majalengka Ny.Imas Indrawati Sutrisno,SE dalam sambutannnya mengatakan, lomba makanan dan minuman ini adalah bukti komitmen TP PKK Kabupaten dalam mendukung pembangunan di Kabupaten Majalengka, khususnya dalam membantu program pemerintah daerah dalam mewujudkan ketahanan pangan masyarakat.
“Melalui upaya ini diharapkan menjadi cara dalam menuangkan karya, cipta dan karsa kader kader PKK, yang tentunya akan bermanfaat dan bernilai guna menunjang pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas, cerdas, kreatif dan sehat.” Harapanya.(Vick).
Sumber : Sinar Media
Label:
Khas Majalengka
Lomba Kreasi Makanan Alternatif
Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Majalengka bekerja sama dengan Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) menyelenggarakan lomba cipta menu beragam, bergizi dan berimbang (3B).Kegiatan tersebut juga disatukan dengan gelar produk pangan nonberas dan terigu beragam, bergizi, berimbang, aman dan halal tingkat kabupaten yang berlangsung di Gedung Yudha Setda Majalengka, kemarin (19/5).Kepala BP4K Kabupaten Majalengka, Abdul Gani mengatakan, untuk mendukung konsumsi pangan 3B sebagai upaya mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, pihaknya berinisiatif menggelar lomba tersebut bersama para pengurus TP PKK. “Kami harap kegiatan ini bisa menjadi salah satu bagian dari strategi dan metodologi penyuluhan dalam ketahanan pangan. Tujuannya, untuk mengurangi ketergantungan konsumsi pangan berbahan baku beras,” ungkapnya.
Dikatakan, target dan sasaran perlombaan adalah pengenalan agar dapat menggiring masyarakat untuk memahami pentingnya mengolah dan mengonsumsi bahan pangan alternatif dengan latar belakang potensi lokal.
Kegiatan kali ini diikuti TP PKK dari 26 kecamatan dan 15 kelompok wanita tani. Para peserta menampilkan beragam kreasi produk pangan dengan bahan antara lain, ubi jalar, ketela, jagung, dan berbagai jenis umbian-umbian yang menjadi potensi lokal Majalengka.
Sementara itu, Bupati H Sutrisno SE MSi mengatakan, kegiatan ini diharapkan bukan sekadar untuk menyalurkan hobi memasak, tapi bisa dijadikan sarana menggali menu makanan baru yang dapat dikonsumsi keluarga dan masyarakat.
“Agar masyarakat bisa mengonsumsi bahan pangan pokok tidak hanya dari beras. Juga diharapkan bisa memanfaatkan potensi bahan pangan lainnya yang ada di sekitar kita,” imbuhnya.
Sumber : BAPEDA Kabupaten Majalengka
Label:
Berita Majalengka
William Soerjadjaja
William Soerjadjaja (lahir di Majalengka, 23 Desember 1923 – meninggal di Jakarta, 2 April 2010 pada umur 86 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia yang menjadi terkenal karena suksesnya membangun PT Astra Internasional, sebuah perusahaan besar di Indonesia. William dikenal dengan sebuatan "Oom Willam".
Kedua orangtuanya meninggal pada waktu ia berusia 12 tahun.Ayahnya meninggal dunia pada Oktober 1934, disusul oleh ibunya pada Desember 1934. William, dalam usia yang masih sangat muda, melanjutkan usaha ayahnya, berjualan hasil bumi.Ia tampaknya mewarisi bakat dagang ayahnya.
Sewaktu bersekolah di HCZS (Hollands Chinesche Zendingsschool) di Kadipaten, pada masa penjajahan Belanda, ia sempat tidak naik kelas. Namun karena ketekunannya, ia berhasil melanjutkan pendidikannya ke MULO di Cirebon. Namun kembali ia tinggal kelas. Dari pelajaran-pelajaran yang diberikan di sekolah, William paling menyukai pelajaran ekonomi dan tata buku. Dengan kedua pelajaran inilah ia membangun seluruh usahanya.
"Kami ke kantor catatan sipil naik becak. Kami menikah tanpa dihadiri tamu undangan. Kami pun hanya mengenakan baju biasa saja. Benar-benar sangat sederhana. Tidak ada tukang potret yang hadir, itu sebabnya kami tidak punya potret pernikahan. Setelah selesai nikah, kami pulang ke Jalan Merdeka naik becak lagi," begitu kisah William
Pernikahan ini dikaruniai empat orang anak, yaitu Edwin Soerjadjaja (17 Juli 1942), Edward (21 Mei 1948), Joyce (14 Agustus 1950), dan Judith (14 Februari 1952).
Belum dua minggu menikah, William berangkat untuk belajar di Belanda untuk mempelajari ilmu penyamakan kulit.Ia lalu mendirikan pabrik penyamakan kulit pada tahun 1949. Tahun 1948, ketika Edward lahir, kedua pasangan ini hidup dengan berjualan kacang dan rokok yang dikirim dari Bandung. Mereka hidup dengan penuh perjuangan, kerja keras, dan doa. Dalam kehidupan yang sangat sederhana, mereka masih dapat menyewa satu kamar di sebuah hotel di Amsterdam.
Pola hidup hemat ini tampak jelas ketika pada suatu kali keluarga muda ini pergi ke Basel, Swiss. Dalam perjalanan yang berlangsung satu minggu itu mereka hanya hidup dengan roti, bubur, dan susu untuk berhemat.
Bulan Februari 1949 keluarga William kembali ke Indonesia
William selalu mengutamakan pengembangan kemampuan dan peningkatan pendidikan sumber daya manusia. Hal ini dijalankannya dalam berbagai program pelatihan dan beasiswa untuk karyawan. Pada tahun 1970-an, banyak karyawannya yang dikirimnya ke Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang untuk belajar.
William tidak membeda-bedakan karyawannya. Di Astra, banyak tenaga kerja pribumi yang dipekerjakannya, dari tingkat karyawan biasa hingga pimpinan. Ini merupakan wujud kecintaan dan kebanggaannya sebagai orang Indonesia.
William sangat mengutamakan nilai-nilai naluri, loyalitas, dan rasa percaya dalam merekrut karyawan.Karyawan dipacu untuk mengembangkan kreativitas mereka dengan menghargai inovasi bisnis mereka untuk diuji coba.
Pada 1992-1993 Astra sempat jatuh ketika bisnis Edward Soerjadjaja, anak sulungnya, ambruk. William pun terpaksa melepaskan banyak sahamnya di PT Astra sebagai bentuk tanggung jawab pribadinya dan pengorbanannya demi anaknya.William menjalani semuanya dengan pasrah dan penyerahan. Belakangan William berhasil bangkit lagi. Ia membeli 10 juta saham PT Mandiri Intifinance dan berinvestasi dalam pengembangan usaha petani kecil serta usaha-usaha kecil dan menengah.
Sebagai pengusaha sukses, William mendapatkan banyak penghargaan dan pengakuan dari dalam maupun luar negeri.
Read full story
Masa kecil
William dilahirkan dengan nama Tjia Kian Liong, sebagai anak kedua dari enam bersaudara. Namun di antara saudara-saudaranya, ia adalah anak laki-laki yang pertama.Kedua orangtuanya meninggal pada waktu ia berusia 12 tahun.Ayahnya meninggal dunia pada Oktober 1934, disusul oleh ibunya pada Desember 1934. William, dalam usia yang masih sangat muda, melanjutkan usaha ayahnya, berjualan hasil bumi.Ia tampaknya mewarisi bakat dagang ayahnya.
Sewaktu bersekolah di HCZS (Hollands Chinesche Zendingsschool) di Kadipaten, pada masa penjajahan Belanda, ia sempat tidak naik kelas. Namun karena ketekunannya, ia berhasil melanjutkan pendidikannya ke MULO di Cirebon. Namun kembali ia tinggal kelas. Dari pelajaran-pelajaran yang diberikan di sekolah, William paling menyukai pelajaran ekonomi dan tata buku. Dengan kedua pelajaran inilah ia membangun seluruh usahanya.
Menikah dan berkeluarga
William kemudian pindah ke Kota Bandung, disana ia bertemu dengan jodohnya, Lily Anwar, dan mereka menikah pada 15 Januari 1947. Pernikahan mereka berlangsung dengan sangat sederhana."Kami ke kantor catatan sipil naik becak. Kami menikah tanpa dihadiri tamu undangan. Kami pun hanya mengenakan baju biasa saja. Benar-benar sangat sederhana. Tidak ada tukang potret yang hadir, itu sebabnya kami tidak punya potret pernikahan. Setelah selesai nikah, kami pulang ke Jalan Merdeka naik becak lagi," begitu kisah William
Pernikahan ini dikaruniai empat orang anak, yaitu Edwin Soerjadjaja (17 Juli 1942), Edward (21 Mei 1948), Joyce (14 Agustus 1950), dan Judith (14 Februari 1952).
Belum dua minggu menikah, William berangkat untuk belajar di Belanda untuk mempelajari ilmu penyamakan kulit.Ia lalu mendirikan pabrik penyamakan kulit pada tahun 1949. Tahun 1948, ketika Edward lahir, kedua pasangan ini hidup dengan berjualan kacang dan rokok yang dikirim dari Bandung. Mereka hidup dengan penuh perjuangan, kerja keras, dan doa. Dalam kehidupan yang sangat sederhana, mereka masih dapat menyewa satu kamar di sebuah hotel di Amsterdam.
Pola hidup hemat ini tampak jelas ketika pada suatu kali keluarga muda ini pergi ke Basel, Swiss. Dalam perjalanan yang berlangsung satu minggu itu mereka hanya hidup dengan roti, bubur, dan susu untuk berhemat.
Bulan Februari 1949 keluarga William kembali ke Indonesia
Mendirikan Astra
Pada tahun 1957, William bersama adiknya, Tjia Kian Tie, dan temannya, Lim Peng Hong, mendirikan PT Astra yang belakangan berkembang menjadi PT Astra Internasional.Astra awalnya memasarkan minuman ringan dan mengekspor hasil bumi. Usaha otomotif dimulai pada tahun 1968-69. Saat itu Astra mulai mengimpor truk Dalam waktu 13 tahun saja, sudah 72 perusahaan yang bernaung di bawah bendera grup itu.Ketulusan Taipan Panutan - Biografi Tokoh Indonesia|accessdate=2010-04-04}}</ref> Pada akhir tahun 1992, jumlah perusahaannya sudah mencapai sekitar 300 buah, bergerak di berbagai sektor: otomotif, keuangan, perbankan, perhotelan dan properti.William selalu mengutamakan pengembangan kemampuan dan peningkatan pendidikan sumber daya manusia. Hal ini dijalankannya dalam berbagai program pelatihan dan beasiswa untuk karyawan. Pada tahun 1970-an, banyak karyawannya yang dikirimnya ke Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang untuk belajar.
William tidak membeda-bedakan karyawannya. Di Astra, banyak tenaga kerja pribumi yang dipekerjakannya, dari tingkat karyawan biasa hingga pimpinan. Ini merupakan wujud kecintaan dan kebanggaannya sebagai orang Indonesia.
William sangat mengutamakan nilai-nilai naluri, loyalitas, dan rasa percaya dalam merekrut karyawan.Karyawan dipacu untuk mengembangkan kreativitas mereka dengan menghargai inovasi bisnis mereka untuk diuji coba.
Pada 1992-1993 Astra sempat jatuh ketika bisnis Edward Soerjadjaja, anak sulungnya, ambruk. William pun terpaksa melepaskan banyak sahamnya di PT Astra sebagai bentuk tanggung jawab pribadinya dan pengorbanannya demi anaknya.William menjalani semuanya dengan pasrah dan penyerahan. Belakangan William berhasil bangkit lagi. Ia membeli 10 juta saham PT Mandiri Intifinance dan berinvestasi dalam pengembangan usaha petani kecil serta usaha-usaha kecil dan menengah.
Sebagai pengusaha sukses, William mendapatkan banyak penghargaan dan pengakuan dari dalam maupun luar negeri.
Akhir hayat
William meninggal dunia pada tanggal 2 April 2010 pukul 22.43 di RS Medistra, Jakarta Selatan, Indonesia setelah sebelumnya beberapa kali dirawat karena sakit.William terakhir dirawat pada tanggal 10 Maret dan sejak 1 April dia dirawat di Unit Rawat Intensif (ICU).
Sumber : Wikipedia
Label:
Tokoh Majalengka
Ajip Rosidi
Ajip Rosidi (baca: Ayip Rosidi), (lahir di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938; umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, penulis, budayawan, dosen, pendiri, dan redaktur beberapa penerbit, pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage
Ia mulai mengumumkan karya sastera tahun 1952, dimuat dalam majalah-majalah terkemuka pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat, Indonesia, Zenith, Kisah, dll. Menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, Ajip adalah pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah).[5]
Bukunya yang pertama, Tahun-tahun Kematian terbit ketika usianya 17 tahun (1955), diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya sekitar seratus judul.[5]
Karyanya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bunga rampai atau terbit sebagai buku, a.l. dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perands, Kroatia, Rusia, dll. [5]
Sejak SMP Ajip sudah menekuni dunia penulisan dan penerbitan. Ia menerbitkan dan menjadi editor serta pemimpin majalah Suluh Pelajar (1953-1955). Pada tahun 1965-1967 ia menjadi Pemimpin redaksi Mingguan Sunda; Pemimpin redaksi majalah kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979); Pendiri penerbit Pustaka Jaya (1971). Mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973). Menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981).[5]
Bersama kawan-kawannya, Ajip mendirikan penerbit Kiwari di Bandung (1962), penerbit Cupumanik (Tjupumanik) di Jatiwangi (1964), Duta Rakyat (1965) di Bandung, Pustaka Jaya (kemudian Dunia Pustaka Jaya) di Jakarta (1971), Girimukti Pasaka di Jakarta (1980), dan Kiblat Buku Utama di Bandung (2000). Terpilih menjadi Ketua IKAPI dalam dua kali kongres (1973-1976 dan 1976-1979). Menjadi anggota DKJ sejak awal (1968), kemudian menjadi Ketua DKJ beberapa masaja batan (1972-1981). Menjadi anggota BMKN 1954, dan menjadi anggota pengurus pleno (terpilih dalam Kongres 1960). Menjadi anggota LBSS dan menjadi anggota pengurus pleno (1956-1958) dan anggota Dewan Pembina (terpilih dalam Kongres 1993), tapi mengundurkan diri (1996). Salah seorang pendiri dan salah seorang Ketua PP-SS yang pertama (1968-1975), kemudian menjadi salah seorang pendiri dan Ketua Dewan Pendiri Yayasan PP-SS (1996). Salah seorang pendiri Yayasan PDS H.B. Jassin (1977).[5]
Sejak 1981 diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehidupan sastera-budaya dan sosial-politik di tanah air dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan Hadiah Sastera Rancagé setiap yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.[5]
Setelah pensiun ia menetap di desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Meskipun begitu, ia masih aktif mengelola beberapa lembaga nonprofit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda.[5]
Sumber : Wikipedia
Read full story
Pendidikan
Ajib Rosidi mulai menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Jatiwangi (1950), lalu melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953) dan terakhir, Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956). Meski tidak tamat sekolah menengah, namun dia dipercaya mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi Indonesia, dan sejak 1967, juga mengajar di Jepang [2]. Pada 31 Januari 2011, ia menerima gelar Doktor honoris causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. [3]
Keluarga
Ia menikah dengan Fatimah Wirjadibrata (1955) dan dikaruniai 6 anak, yaitu:- Nunun Nuki Aminten (1956)
- Titi Surti Nastiti (1957)
- Uga Percéka (1959)
- Nundang Rundagi (1961)
- Rangin Sembada (1963)
- Titis Nitiswari (1965).
Proses kreatif
Ajip mula-mula menulis karya kreatif dalam bahasa Indonesia, kemudian telaah dan komentar tentang sastera, bahasa dan budaya, baik berupa artikel, buku atau makalah dalam berbagai pertemuan di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastra Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik.[5]Ia mulai mengumumkan karya sastera tahun 1952, dimuat dalam majalah-majalah terkemuka pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat, Indonesia, Zenith, Kisah, dll. Menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, Ajip adalah pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah).[5]
Bukunya yang pertama, Tahun-tahun Kematian terbit ketika usianya 17 tahun (1955), diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya sekitar seratus judul.[5]
Karyanya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bunga rampai atau terbit sebagai buku, a.l. dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perands, Kroatia, Rusia, dll. [5]
Aktivitas
Pada umur 12 tahun, saat masih duduk di bangku kelas VI Sekolah Rakyat, tulisan Ajip telah dimuat dalam ruang anak-anak di harian Indonesia Raya.[5]Sejak SMP Ajip sudah menekuni dunia penulisan dan penerbitan. Ia menerbitkan dan menjadi editor serta pemimpin majalah Suluh Pelajar (1953-1955). Pada tahun 1965-1967 ia menjadi Pemimpin redaksi Mingguan Sunda; Pemimpin redaksi majalah kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979); Pendiri penerbit Pustaka Jaya (1971). Mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973). Menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981).[5]
Bersama kawan-kawannya, Ajip mendirikan penerbit Kiwari di Bandung (1962), penerbit Cupumanik (Tjupumanik) di Jatiwangi (1964), Duta Rakyat (1965) di Bandung, Pustaka Jaya (kemudian Dunia Pustaka Jaya) di Jakarta (1971), Girimukti Pasaka di Jakarta (1980), dan Kiblat Buku Utama di Bandung (2000). Terpilih menjadi Ketua IKAPI dalam dua kali kongres (1973-1976 dan 1976-1979). Menjadi anggota DKJ sejak awal (1968), kemudian menjadi Ketua DKJ beberapa masaja batan (1972-1981). Menjadi anggota BMKN 1954, dan menjadi anggota pengurus pleno (terpilih dalam Kongres 1960). Menjadi anggota LBSS dan menjadi anggota pengurus pleno (1956-1958) dan anggota Dewan Pembina (terpilih dalam Kongres 1993), tapi mengundurkan diri (1996). Salah seorang pendiri dan salah seorang Ketua PP-SS yang pertama (1968-1975), kemudian menjadi salah seorang pendiri dan Ketua Dewan Pendiri Yayasan PP-SS (1996). Salah seorang pendiri Yayasan PDS H.B. Jassin (1977).[5]
Sejak 1981 diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehidupan sastera-budaya dan sosial-politik di tanah air dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan Hadiah Sastera Rancagé setiap yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.[5]
Setelah pensiun ia menetap di desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Meskipun begitu, ia masih aktif mengelola beberapa lembaga nonprofit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda.[5]
Penghargaan
Beberapa penghargaan yang pernah diperoleh Ajip Rosidi, di antararanya:[6]- Hadiah Sastera Nasional 1955-1956 untuk puisi (diberikan tahun 1957) dan 1957-1958 untuk prosa (diberikan tahun 1960).
- Hadiah Seni dari Pemerintah RI 1993.
- Kun Santo Zui Ho Sho ("Bintang Jasa Khazanah Suci, Sinar Emas dengan Selempang Leher") dari pemerintah Jepang sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang dinilai sangat bermanfaat bagi hubungan Indonesia-Jepang 1999
- Anugerah Hamengku Buwono IX 2008 untuk berbagai sumbangan positifnya bagi masyarakat Indonesia di bidang sastera dan budaya.
Karya-karyanya
Ada ratusan karya Ajip. Beberapa di antaranya: [1]
- Tahun-tahun Kematian (kumpulan cerpen, 1955)
- Ketemu di Jalan (kumpulan sajak bersama SM Ardan dan Sobron Aidit, 1956)
- Pesta (kumpulan sajak, 1956)
- Di Tengah Keluarga (kumpulan cerpen, 1956)
- Sebuah Rumah buat Haritua (kumpulan cerpen, 1957)
- Perjalanan Penganten (roman, 1958, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh H. Chambert-Loir, 1976; Kroatia, 1978, dan Jepang oleh T. Kasuya, 1991)
- Cari Muatan (kumpulan sajak, 1959)
- Membicarakan Cerita Pendek Indonesia (1959)
- Surat Cinta Enday Rasidin (kumpulan sajak, 1960);
- Pertemuan Kembali (kumpulan cerpen, 1961)
- Kapankah Kesusasteraan Indonesia lahir? (1964; cetak ulang yang direvisi, 1985)
- Jante Arkidam jeung salikur sajak lianna (kumpulan sajak, bahasa Sunda, 1967);
- Jeram (kumpulan sajak, 1970);
- Jante Arkidam jeung salikur sajak lianna (kumpulan sajak, bahasa Sunda, 1967)
- Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia (1969)
- Ular dan Kabut (kumpulan sajak, 1973);
- Sajak-sajak Anak Matahari (kumpulan sajak, 1979, seluruhnya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh T. Indoh, dan dimuat dalam majalah Fune dan Shin Nihon Bungaku (1981)
- Manusia Sunda (1984)
- Anak Tanahair (novel, 1985, terjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Funachi Megumi, 1989.
- Nama dan Makna (kumpulan sajak, 1988)
- Sunda Shigishi hi no yume (terjemahan bahasa Jepang dari pilihan keempat kumpulan cerita pendek oleh T. Kasuya 1988)
- Puisi Indonesia Modern, Sebuah Pengantar (1988)
- Terkenang Topeng Cirebon (kumpulan sajak, 1993)
- Sastera dan Budaya: Kedaerahan dalam Keindonesiaan (1995)
- Mimpi Masasilam (kumpulan cerpen, 2000, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang)
- Masa Depan Budaya Daerah (2004)
- Pantun Anak Ayam (kumpulan sajak, 2006)
- Korupsi dan Kebudayaan (2006)
- Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam dalam Kenangan (otobiografi, 2008)
- Ensiklopédi Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya. 2000
Sumber : Wikipedia
Label:
Tokoh Majalengka
Langganan:
Postingan (Atom)












